oleh

PT. Pertamina (Persero) Dumai Babat Pohon Mangrove di Sekitar Dermaga

Riauperistiwa.com Dumai Tebang 3 Pohon Mangrove Busrin (48) Kuli Pasir Divonis 2 Tahun dan Denda 2 Miliar,  kalimat pembuka diatas adalah kutipan dari judul berita Kompas.com Jumat, 24/11/2014. Seorang buruh miskin di Probolingo, Jawa Timur, Busrin (48) harus mendekam di penjara selama 2 tahun dan membayar denda Rp 2 miliar, Penyebabnya ia menebang 3 batang pohon mangrove di kampungnya Desa Pesisir, Kecamatan Sumberasih pada 16 Juli 2014. Jaksa menuntut Busrin selama 2 tahun penjara karena dengan sengaja menggunakan cara dan metode yang merusak ekosistim.

 

Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Probolingo terdiri atas Putu Agus Wiranata, Maria  Anita dan Hapsari Retno Widowulan kabulkan tuntutan jaksa dengan menjatuhkan pidana penjara 2 tahun dan denda Rp 2 miliar subsidair 1 bulan. Kasus tersebut menjadi perhatian publik karena dianggap mencederai rasa keadilan terhadap masyarakat kecil. Pejabat Humas PN Kota Probolinggo menilai hukuman yang dijatuhkan cukup ringan karena merupakan vonis minimal.

Majelis hakim berpendapat, Busrin melanggar Pasal 35 hurup e, f dan g UU Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pasir dan Pulau-Pulau Terluar. Majelis hakim juga menyatakan tidak ada alasan untuk memaafkan terdakwa, serta tidak ada alasan pembenaran untuk perbuatan terdakwa,”

Dengan adanya perbuatan terdakwa, yakni menebang pohon mangrove tersebut dapat menyebabkan perubahan fungsi lingkungan dan merusak ekologi alam, terjadinya akumulasi pencemaran dan menurunkan kualitas air,” demikian salah satu isi putusan majelis hakim seperti dimuat website Mahkamah Agung.

Sedangkan fungsi dari adanya pohon mangrove, masih menurut Majelis hakim, adalah untuk mengurangi resiko bencana sebagai biofilter untuk penetralisir logam berat dan sebagai daerah pemijahan dan asuhan ikan serta biota lainnya. Selain itu pohon mangrove juga sebagai penahan erosi dan abrasi yang sangat berguna bagi kepentingan orang banyak, sehingga dengan banyaknya fungsi pohon mangrove, pemerintah melarang adanya penebangan terhadap pohon mangrove.

Membandingkan kejadian Busrin, dengan tampa sadar bahwa menebang pohon mangrove adalah perbuatan melawan hukum, maklum dia tak lulus pendidikan SD. Bagaimana dengan pihak PT. Pertamina (persero) RU – II Dumai. Berdasarkan informasi dan temuan di lapangan, adanya penebangan pohon mangrove di sekitar Dermaga PT. Pertamina dengan sengaja, penebangan pohon mangrove diketahui sekitar Bulan November 2018, tentunya atas kejadian tersebut perlu dilakukan suatu konfirmasi dan klarifikasi kepada pihak PT. Pertamina.

Atas dasar apa melakukan  penebangan pohon mangrove dekat Dermaga, serta atas perintah siapa dan untuk keperluan apa, apakah ada analisis dampak lingkungan,  karena pembabatan pohon mangrove dengan berbagai alasan jelas melanggar ketentuan pada UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, diantaranya diatur larangan penebangan pohon di wilayah 130 kali jarak pasang laut terendah dan pasang laut tertinggi.

Larangan pembabatan pohon di pinggir laut atau mangrove tertuang dalam pasal 50 UU Kehutanan, dan diatur masalah pidananya pada pasal 78 dengan ancaman 10 tahun penjara dan denda Rp 5 miliar. Apabila penebangan pohon mangrove di Dermaga PT. Pertamina dilakukan tidak sesuai aturan serta ada pelanggaran terhadap ketentuan, sangat disayangkan.

Karena selama ini Pertamina dikenal dengan konsep pembangunan yang ramah lingkungan. Oleh karena itu siapapun pihak yang menyuruh dan memerintahkan untuk penebangan pohon mangrove dimaksud haruslah bertanggungjawab. Atas kejadian yang dialami Busrin seorang kuli pasir dengan apa yang telah dilakukan oleh pihak PT. Pertamina sebagai perusahaan nasional tentu harus dipelajari apakah ada kemiripan serta persoalan yang sama.

Oleh karena itu diperlukan suatu reverensi serta pendapat para ahli agar adanya keadilan bagi semua pihak. Tentu harapannya semua orang sama dimata hukum tidak memandang apakah ia seorang kuli pasir atau manajemen sebuah perusahaan nasional, siapapun perusak hutan mangrove harus mendapat perlakuan hukum yang sama.

Ketika di konfirmasi oleh Tim Sekber Senin, (29/04/19) Muslim selaku Manejer ComRel melalui sambungan telepon seluler, mengiyakan,” Benar ada penebangan pohon mangrove adapun tujuannya untuk pembuatan taman dan beralasan di kawasan itu banyak terdapat ular dan biawak” Ungkapnya.

Apapun itu alasannya tentu harus ada satu landasan hukum apalagi dengan dalih untuk     membuat taman, tetapi dengan cara membabat pohon mangrove tidak dapat dibenarkan.

Penulis : Tim Sekber

Editor    : RPC

Facebook Comments

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed