oleh

Ketika KPK Ciduk Sekda Biasa Saja, Saat Zulkifli AS Jadi Tersangka Heboh Serta Merta, Akibat Fungsi Humas Yang Terabaikan

Riauperistiwa.com Dumai – Masih segar dalam ingatan kita beberapa waktu lalu Sekretaris Daerah (Sekda) Dumai M. Nasir ditahan KPK. Pemberitaan tidaklah begitu hebohnya, memang sempat viral namun hanya berselang beberapa saat lantas kemudian menghilang.

Akan tetapi tatkala Walikota Dumai baru saja ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK pemberitaan terus muncul ke permukaan tiada henti sambung -menyambung. Berita bermunculan ibarat gelombang saling berkesinambungan bahkan tidak lagi berfokus pada kasus yang ditangani KPK saja.

Akan tetapi merambat dan menyerempet ke semua hal yang pernah berhubungan dengan keputusan Zulkifli AS sebagai Walikota Dumai selama ini. Serta-merta mencari kebijakan yang dianggap berpotensi terjadinya Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) dilingkungan orang – orang terdekatnya.

Menyikapi penomena tersebut  berkemungkinan ada sesuatu yang salah dan tidak kena antara Zulkifli AS dengan beberapa insan pers selama ini. Tentu kita tidak dapat menilai bagaimana cara berkomunikasi yang telah dilakukan Mantan Sekda Dumai M.Nasir dan Zulkifli AS, dengan awak media.

Akan tetapi dari uraian peristiwa kita bisa simpulkan antara dua pejabat tersebut bagaimana caranya menjalin komunikasi yang baik dan harmonis. Apalagi semenjak Humas bergabung dibawah Infokom tidak ada saluran informasi yang bisa dimintai keterangan berkaitan

dengan jalannya pemerintahan.

Satu masa dahulu sewaktu Humas berdiri sendiri, setiap insan pers butuh akan informasi, orang yang dicari untuk dimintai keterangan jelas kemana arah dan tujuannya. Namun sekarang  tidak tahu siapa yang akan dituju dan dimintai keterangan karena tidak ada pejabat yang berkompeten langsung untuk berkomunikasi.

Parahnya pejabat yang ada sekarang tidak punya kemampuan untuk menjalin komunikasi yang baik dengan insan pers. Padahal posisi humas sangat vital dan penting  terutama untuk menjembatani komunikasi dua arah antara Pemerintah dengan semua pihak terutama insan pers.

Dan yang lebih penting jangan ada upaya untuk membeda-bedakan media satu dengan yang lainnya semua harus di perlakukan sama. Inilah akibatnya jika fungsi humas terabaikaan karena dari 12 Kabupaten dan Kota yang ada di Propinsi Riau, Dumai satu-satunya bagian humas digabung dengan Infokom, hal yang tidak lazim diperbuat oleh seorang Kepala Daerah.

Sehingga tidak heran apabila kini terjadi carut-marut, saluran komunikasi tersumbat, menurut sumber terpercaya Walikota Dumai Zulkifli AS berbuat demikian karena adanya pembisik dari orang-orang terdekat, ternyata dikemudian hari keputusan ini patut dan layak untuk disesali.

Supaya jangan terjadi polemik berkepanjangan dan belum terlambat untuk bertindak hendaknya Walikota Dumai mengembalikan seperti semula. Merubah Perwako tentang kedudukan humas dan merajut kembali keharmonisan yang pernah terjalin, bukannya seperti sekarang terjadi kontradiktif.

Apalagi orang-orang yang selama ini selalu merasa dekat ketika Zul AS jaya, ternyata ketika beliau tertimpa musibah satu persatu menghilang.Begitu juga dengan oknum ASN selama ini yang selalu menempel sekarang semua buang badan malahan mereka mencibir dari belakang dan ada juga yang kepingin coba-coba jadi pahlawan.

Semoga ini menjadi pembelajaran bagi siapapun yang menjabat, jangan pernah membedakan orang karena harta dan kedudukannya. lngat jabatan hanya sementara selagi engkau berjaya akan dipuja, ketika engkau terperdaya angkau dihina itulah hukum dunia. (RPC)

Penulis : Zainal Arifin

Facebook Comments

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed