oleh

Gubahan Pengingat dan Penasihat Diri Jilid I

“Kesumat Rindu Merasuk”

“Balek Nak..
Hari dah petang
Magrib dah nak datang
Bah karang meradang
Ayam belum ke reban
Ajab dikau Nak, keno pesiang
Mak cakap sekali lagi, balek Nak”

Strongkeng belum di nyale
Spritus pulak tak ade
Sumbu dahlah besepai
Alamak!
Alamat gelap gulita
Abah tak cakap apa-apa
Maaak..
Diam seribu bahasa
Tak dapat buat apa agaknya

Bergegas mandi
Biar cepat pergi mengaji
Lekas balek, pergi nonton TV
Tonton Film P Ramle
Tekadang terasa geli
Ceritanya lucu sekali
Mak datang begegas
Kenapa tak balek lagi
Nak kena pelasah dikau ni
Akupun cabut lari

Sampai rumah basuh kaki
Naik atas dipan
Tidur pakai kelambu
Itulah jaman kecik dulu
Tebayang Emak, Abah
Aku jadi rindu,
Ingat gurat wajah Abahku
Mak pula tersenyum selalu
Sendu merasuk kalbu
Rindu serasa membubu
Mulut mulai tergagu
Doa’ku selalu untukmu
Kedua orang tuaku
Tenanglah di haribaanmu
Aku tetaplah anakmu

“Mati, Hidup Tak Berbeda Seribu Duka Sejuta Lara Terasa Sama”

“Itu kubur Aki
Mak, Abah tengok nanti
Saudara lain banyak juga disini
Tanah moyang kami
Karena asli orang pribumi
dari jaman Bahari
Aki aku tu Bomoh sakti
Semua orang dia obati
Hebat Aki dari Mantri”

Itulah cakap Kiki
Pangkat Adek budak tu lagi
Kini entah kemana dia pergi
Bak ditelan Bumi, penat mencari
Tak tahu rimbanya lagi
Masa jauh berganti
Aku kembali berdiri disini
Terpatri, bagai terpaku dibumi
Kubur Aki? dan,
Kikipun dah tak ada lagi
Tergusur berganti kawasan lndustri
Aku mulai gerah, gelisah merayapi
Angin serasa enggan menjamah
Terhalang tanki berjejer rapi
Bergegas dan beranjak pergi

Aku terpaku
Merenung seraya termenung
Yang hidup, apalagi terkubur
Semua sama, pada tergusur
Kehidupan melesat bak busur
Ada tersungkur, terkubur dan kabur
Tertinggal menjadi penganggur
Jikapun kerja menjadi kuli panggul
Tanah Aki tak lagi subur
Anak cucu tak lagi berbaur
Satupun tak ada termahsyur

Mataku mulai berkaca
Teringat ucapan Kiki tentang Akinya
Pengorbanan Aki dan Kiki luar biasa
Lainnya juga tak jauh beda
Imbalan tak usah ditanya
Ganti rugi, pastinya tetap merugi
Tak ada yang mau peduli,
Janji sememangnya sulit diprediksi

Aki dah lama pergi,
Kiki masih menjadi misteri
Yang lain harus diingatkan
Percaya,
Takkan berhenti sampai disini,
Lagi, selama kaki menapak, Kuku mencengkram, kuasa digenggam
Siklus terus berjalan,
Do’a dan harapan,
Saatnya Tuhan ada mendengarkan
Sekadar menginggatkan
Bahwa Kita pernah seperjuangan
Hakikat sebuah persahabatan
Taklah mungkin,
Ingin bersubahat apalagi khianat
Bumi Melayu tetap keramat
Anak watan harus selamat

Zainal Arifin
Dumai, Senin (29/06/20)

Facebook Comments

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed