oleh

Datuk Bandar Bakau ” Kami Dukung Datuk Melawan Siapapun Pihak Yang Mencoba Merusak Lingkungan”.

Riauperistiwa.com Dumai  Sebagaimana di wartakan Riauperistiwa.com Rabu, 23 Juli 2019 dengan judul ” Datuk Bandar Bakau, Darwis dan Pecinta Alam Bahari (PAB) Bereaksi, Terkait Penebangan Mangrove di Areal Pelsus PT. Pertamina RU ll Dumai “. ternyata mendapat animo dan apresiasi berbagai kalangan.

Miris dan kecewanya adalah, ternyata tanggal 26 Juli esok, sehari setelah berita ini rilis akan di peringati sebagai Hari Mangrove Sedunia, yang dicetuskan Unesco tahun 2018, dan bolehlah di katakan kejadian tersebut menjadi kado pahit menyambut Hari Mangrove Sedunia.

Wajar jika salah satu pengiat lingkungan yang konsen terhadap keberlangsungan tanaman mangrove, Darwis atau akrab disapa dengan gelaran  Datuk Bandar Bakau meradang dan gusar bukan kepalang, ketika mendengar kejadian adanya penebangan mangrove di kawasan tersebut.

Salah satu yang menjadi pemicu kemarahannya adalah, sosok yang ungkap kejadian penebangan mangrove  berstatus pekerja PT. Peteka Karya Gapura (PKG), di kenakan pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan dalih membawa telepon genggam alias HP, dan di tambah lagi, mangrove yang di tebang itu mangrove alami dan diduga berumur puluhan tahun.

Dan sampai saat ini kasus PHK tersebut masih bergulir pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Dumai, meski telah beberapa kali diadakannya sidang mediasi/klarifikasi namun belum ada kesepakatan tercapai, anehnya kasus pohon  mangrove adem ayem, macam tak ada kejadian.

Sebagai salah satu tokoh pelestari lingkungan dan juga anak watan Dumai, karena kecintaannya terhadap mangrove tidak bisa di pungkiri dan menbuat namanya di kenal secara Nasional. Bahkan seorang Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang nota bene sebagai Presiden kala itu mengapresiasi dengan mengundangnya ke Istana ke Presidenan di Jakarta.

Tentunya atas kejadian itu jika tidak ada tindakan dilakukannya bisa saja mencederai nama besarnya sebagai salah satu tokon nasional pelestari pohon mangrove dan parahnya kelak jika tidak ada tindakan nyata diambil, dengan dalih apapun orang atau korporasi kelak dengan seenaknya membabat pohon mangrove, secara membabi buta.

Pada kasus ini ada yang sangat kontradiktif, yaitu dua sisi mata uang yang berbeda, satu pihak menganggapnya sebagai orang yang bersalah, dan dipihak lain bak seorang pahlawan, tentunya persoalan ini menjadi dilematis, maka dibutuhkan kearifan dan kebijakan untuk penyelesaian.

Namun apabila dua pihak ngotot dengan segala argumentasinya dan masing – masing bersikukuh sebagai pihak yang paling benar, maka biarlah penyelesaiannya mengikuti proses hukum. Iwan (45) berkomentar “Jika polemik berkepanjangan, maka proses hukum harus berjalan”.ujarnya.

Selanjutnya ia menambahkan” Jika pekerja korban PHK tadi didapati bersalah hukum sesuai aturan dan apabila perusahaan juga di dapati melanggar peraturan terkait lingkungan, usut siapa dalang yang menyuruh, karena tidak ada yang kebal hukum apakah orang pribadi atau korporasi sekalipun”. ujarnya. Kipo (38) yang duduk di samping ikut meng’Amini pendapat Iwan.***

Penulis : Zainal Arifin

Facebook Comments

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed